Berita Utama, Kamberu, Kunjungan

Apresiasi Dirjen PAUD Dikdasmen Setelah Kunjungan Kerja di SMA Negeri 8 Manado: Kagumi Kamberu dan Puji Kepsek Ngantung

(Dikutip dari instagram resmi Dirjen PAUD Dikdasmen, Iwan Syaril, melalui akun @iwan.syahril)

Ada beberapa ekstrakurikuler dengan potensi wirausaha yang luar biasa di SMA Negeri 8 Manado. Ekstrakurikuler ini terbentuk dari kolaborasi dengan orang tua yang intensif sehingga melahirkan banyak inovasi. Mereka mengajak murid untuk belajar berbasis pengalaman dengan aktivitas yang erat konteksnya dengan kondisi alam sekitar dan kearifan lokal.

Aquaponik ini salah satu program dari Kamberu (Kampanye Bertani Urban) yang digagas di sekolah ini. Saya belajar Aquaponik dari murid dan perwakilan orang tua. Aquaponik ini ditumbuhi kangkung dan di bawahnya ada kolam ikan nila dan mujair. Melalui program Kamberu ini SMAN 8 Manado akan mewakili Indonesia dalam kegiatan Young Eco Stars Program.

Dalam sistem ini, tanaman ditanam di atas botol aqua bekas yang dialiri air dari kolam ikan berada di bawahnya. Proses pertukaran nutrisi antara tanaman dan ikan menciptakan lingkungan yang saling menguntungkan serta menghasilkan pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Selain aquaponik, SMAN 8 Manado juga punya ekstrakurikuler budidaya jamur yang sangat menarik! Ruangan lembab dan tidak terpakai di sekolah bisa menghasilkan inovasi pembelajaran dan potensi usaha yang menjanjikan?

Ini kreasi yang dilakukan murid dan perwakilan orang tua di SMA Negeri 8 Manado. Budidaya jamur ini bagian dari Program Kamberu (Kampanye Bertani Urban) yang digagas oleh G.A.S (Gerakan Aksi Siswa) dan dipandu oleh orang tua murid di sekolahnya. Keren banget!

Kolaborasi antara orang tua dan sekolah dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka ternyata dapat melahirkan berbagai inovasi. Dengan bermacam latar belakang orang tua, sekolah dapat menyesuaikan pembelajaran yang erat konteksnya dengan kondisi alam sekitar dan kearifan lokal.

Selepas berkeliling melihat projek garapan murid-murid SMA Negeri 8 Manado, kami duduk-duduk di bawah pohon rindang di pekarangan sekolah. Kami berbincang tentang pengalaman dan kesan mereka selama sekolah di sini. Saking ademnya, jadi enggan untuk beranjak hingga akhirnya kami nyanyi bareng dengan para guru dan murid-murid. Syahdu sekali!

Mendengar cerita dari murid tentang sekolah yang mereka cita-citakan tidak cukup sebentar waktunya. Semakin cair dan hangat suasananya, cerita dari mereka akan lebih mengalir dan jujur tentang perasaan dan harapannya.

Pada kunjungan ke sekolah yang biasanya, saya banyak berdiskusi dengan Kepala Sekolahnya, tapi di SMA Negeri 8 Manado ini, yang banyak bercerita justru dari para murid dan perwakilan orang tua. Mereka bersahutan cerita tentang program dan bermacam inovasi yang dibuat di sekolahnya (diantaranya saya ceritakan di postingan sebelumnya). Tapi saya melihat ini sebagai bentuk kiprah dari kepemimpinan Ibu Mediatrix Ngantung (Bu Meidy) yang telah mengorkestrasi gotong royong membangun ekosistem belajar di sekolahnya.

Bu Meidy mengoptimalkan sinergi orang tua dan para guru sehingga gotong royong terjadi dengan natural. Kepala Sekolah membuka jalan terjadinya kolaborasi, sistem kurikulum dan pembelajaran menyediakan wadah untuk berkreasi dan tercipta berbagai program yang inovatif, dan murid menyambut dengan antusias. Semua bangga menjadi warga sekolah dengan segala pembelajaran yang menyenangkan. Gotong royong ini menghadirkan sukacita bertumbuh bersama untuk mewujudkan sekolah yang kita cita-citakan.

Tiga tahun yang lalu sekolah ini masih memiliki jumlah murid sebanyak 400+ murid, namun sekarang SMA Negeri 8 Manado sudah memiliki lebih dari 1100 murid. Peningkatan jumlah murid ini terjadi semenjak sekolah memiliki berbagai program dan inovasi. Sekolah yang asalnya tidak dilirik orang tua, kini menjelma menjadi sekolah yang populer dan berprestasi.

Sekolah ini merupakan Sekolah Penggerak yang telah mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Dengan adanya Kurikulum Merdeka, sekolah memiliki ruang ekspresi untuk mengembangkan berbagai program yang bisa mengembangkan keterampilan, sikap, dan pengetahuan di luar ruang kelas. Siswa-siswi belajar bekerja tim, mengasah keterampilan sosial, dan mengaplikasikan pengetahuan mereka dalam situasi nyata. Semoga asa kita meningkatkan kualitas layanan satuan pendidikan yang berkelanjutan tak pernah padam.

Ibu Meidy menyampaikan rasa syukurnya dengan adanya Merdeka Belajar. Di awali dengan tidak ada lagi Ujian Nasional. Dia merasa terbebaskan dari belenggu yang sebelumnya sangat mengganggu. Ibu yang murah senyum ini dulu sangat ingin mengembangkan potensi masing-masing murid. Dan akhirnya dengan Kurikulum Merdeka, dia bisa mewujudkan apa yang telah lama dia ingin lakukan sebagai pendidik yaitu menciptakan inovasi pembelajaran yang sesuai dengan minat dan bakat murid-muridnya, hingga Ibu Kepala Dinas bergurau, ini ‘SMA rasa SMK!’

Dr. Iwan Syahril, Ph.D.

Direktur Jenderal PAUD Pendidikan Dasar dan Menengah

Kementerian Pendidikan, Budaya, Riset, dan Teknologi

(Tulisan ini telah disesuaikan dan disunting oleh editor website)