Manado, 5 Juni 2024— Siswa SMAN 8 Manado mengunjuk karya film mereka dalam Kegiatan Manado Movie Festival (MMF) 2024. Kegiatan ini merupakan kerja sama SMAN 8 Manado dengan Manado Movie Awards Management (MMAM) bersama TVRI Sulawesi Utara serta disponsori oleh English First dan Cinépolis Manado. MMAM sendiri merupakan organisasi yang didirikan oleh salah satu orang tua siswa SMAN 8 Manado, Ian Timumu.

Timumu berharap Manado Movie Festival akan menjadi ajang tahunan dalam menampilkan kreativitas perfilman sekolah-sekolah yang memiliki ekstrakurikuler sinematografi sehingga bisa melahirkan sineas-sineas muda Kawanua Sulawesi Utara yang berkualitas.
Pada MMF 2024 ini, para siswa yang tergabung dalam Ekstrakurikuler Smandel Cinematography berpartisipasi sebagai peserta lomba dengan menayangkan film pendek berjudul “Ngana”. Kegiatan ini juga diikuti oleh peserta dari SMAN 9 Manado yang menampilkan Film “Belenggu Lara” dan SMKN 1 Manado dengan “Janji Naya”.

Penayangan film ketiga sekolah tersebut berlangsung ramai karena diselenggarakan secara terbuka di Bioskop Cinépolis Lippo Plaza Kairagi Manado, pada Rabu, 5 Juni 2024, pukul 16.00 WITA sampai selesai. Kurang lebih 500 penonton yang didominasi warga ketiga sekolah peserta lomba hadir menyaksikan karya-karya film tersebut.

Turut hadir mengapresiasi kegiatan ini Sekretaris Dinas Pendidikan Daerah Sulawesi Utara, Jefri Runtuwene, sekaligus membuka kegiatan. Hadir pula Kepala Balai TIK Dinas Pendidikan Sulawesi Utara, Bravo Turangan, didampingi Kepala Tata Usaha Balai TIK, Muhammad Sadad Assegaf. Selain itu, Kepala SMAN 8 Manado, Mediatrix Ngantung, para guru dan pegawai, sebagian siswa, bahkan para alumni dan orang tua, juga ikut nonton bareng mengapresiasi hasil kerja keras kru Smandel Cinematography maupun peserta lain.

Dalam sambutan singkatnya, Ngantung mengungkapkan bahwasannya penayangan film layar lebar karya siswa merupakan kali pertama bagi SMAN 8 Manado.
“Keberhasilan penayangan hasil karya siswa-siswi dalam film layar lebar hari ini sungguh menjadi capaian yang patut diapresiasi karena saya yakin hal ini tidaklah mudah. Para siswa telah bekerja keras untuk sampai pada tahap ini dan saya berterima kasih kepada semua pihak yang turut membantu anak-anak. Dukungan pelatih, orang tua, dan guru merupakan aspek penting sehingga untuk pertama kalinya karya siswa kami bisa ditayangkan dalam format layar lebar di bioskop. Selamat untuk semuanya!” ungkap Ngantung.

Film “Ngana” disutradarai oleh Heidy Mangangka, siswa yang sekaligus juga memerankan karakter Syane. Berkisah tentang perseteruan dua sahabat (Mintje dan Syane) dalam memandang masa depan mereka, film ini sanggup membuat riuh seluruh penonton di studio ketika pada bagian klimaks terdapat plot twist yang berhasil memberikan efek kejut. “Ngana” menghadirkan muatan kritik sosial terhadap motivasi diri pelajar Indonesia dari golongan ekonomi rendah yang kerap memiliki rasa rendah diri untuk berjuang bercita-cita tinggi dan berusaha mengubah nasib.
