Manado, 23 Juli 2024 — Para siswa yang tergabung dalam Program Kampanye Bertani Urban (Kamberu) memulai aktivitas di awal tahun ajaran dengan membuat 250 baglog yang akan dimanfaatkan sebagai media tanam dalam pembudidayaan jamur tiram. Proses pembuatan baglog ini memakan waktu lama dengan tahapan yang cukup panjang.
Tahap pertama: penjemuran dedak padi, dedak jagung, dan serbuk kayu. Penjemuran tergantung tingkat basah dari serbuk tersebut. Biasanya serbuk kayu dijemur kurang lebih 2 hari.
Tahap kedua: pencampuran bahan dan pembuatan baglog. Untuk 90 kg serbuk gergaji, dibutuhkan 20 kg dedak padi. Untuk 5 kg dedak jagung, dibutuhkan kapur bangunan 2 kg. Seluruh bahan baku dicampur menjadi satu. Setelah itu, diberi air kurang lebih 180 liter air.

Dibutuhkan sekop untuk mencampur bahan baku baglog. Alat yang digunakan ialah botol kaca bekas untuk menumbuk agar padat, plastik gula panjang 35 cm, tali 5 cm berfungsi untuk mengikat baglog berat, dan juga botol plastik yang dibelah menjadi dua bagian yang berfungsi untuk mengisi bahan ke plastik agar menjadi baglog. Berat baglog kurang lebih 3 sampai 4 kg.
Tahap ketiga: pengukusan baglog untuk menghilangkan bakteri. Setelah bahan baku telah diolah menjadi baglog, baglog disusun di drum yang di dalamnya sudah dibuatkan tatakan baglog dan diisi air sebanyak 10 liter. Setelah baglog disusun rapi, drum ditutup memakai karung bekas agar uap yang dikukus tidak keluar. Baglog dikukus selama kurang lebih 8 jam. Adapun alat yang digunakan untuk step ini, yaitu 2 buah drum pertamina, karung bekas, kompor khusus untuk mengukus jamur, tabung gas LPG 3 kg sebanyak 3 buah, selang regulator, regulator putar, bambu untuk membuat dudukan.

Tahap keempat: pengisian bibit jamur. Setelah selesai dikukus, baglog diisi bibit jamur, dibungkus plastik, lalu dilapisi pipa yang telah dipotong kurang lebih 2 cm. Pada waktu menaruh bibit, baglog harus disemprot alkohol 70 persen agar mencegah bakteri yang tidak dinginkan masuk ke dalam baglog. Setelah dimasukkan pipa, gunting kertas A4 menjadi 6 bagian. Kertas dibakar agar bakteri jahat yang tertempel tidak mengganggu pertumbuhan miselium pada jamur. Setelah itu, kertas yang sudah terbakar diletakkan di atas pipa agar tidak ada bakteri yang masuk ke dalam baglog. Kemudian, pasangkan karet gelang ke kertas sehingga kertas tertutup dengan rapat. Bahan yang di perlukan pada tahap ini adalah alkohol, spritus, bibit jamur yang terbuat dari jagung yang difermentasi, kertas A4, karet gelang, pipa yang di potong -potong kurang lebih 2 cm.

Tahap kelima: Setelah baglog diberi bibit, baglog dipindah pada ruangan yang tertutup, kurang pencahayaan, dengan suhu 38 sampai 40 derajat celcius agar baglog berkeringat atau gas yang ada di baglog menguap di dalam baglog. Yang dimaksud “berkeringat” ialah baglog tidak kering. Miselium tumbuh pada baglog selama 28 hari.
Tahap keenam: Setelah 28 hari, baglog telah ditumbuhi miselium, sehingga bisa dikatakan proses budidaya jamur berhasil. Jamur yang berhasil tumbuh dipindahkan ke tempat yang lembab dengan suhu 30 sampai 26 derajat celcius. Setelah itu, masa panen jamur dapat dilakukan setiap hari. Jamur bertumbuh selama 4 bulan pada baglog yang sama. Baglog yang rusak akan dibuat menjadi pupuk fermentasi.
